Kisah ini berawal dari cerita orang tua-tua dulu, yaitu suatu masa sebagaimana kebiasaan adat budaya Aceh. Pada saat menjelang puasa atau lebaran ada suatu hari yang namanya hari MakMeugang. Alkisah ini bermula dari daerah Tunong (Mukim XXII) pada hari MakMeugang kali ini, sapi yang hendak disembelih tersebut lepas dan lari jauh. Oleh pencari berkumpul dan menunggu (preh) dalam bahasa Aceh, disebuah sawah dekat Sibreh sekarang, jadilah nama tempat ini dengan nama Blang Preh (sawah tempat menunggu).
Setelah berkumpul mereka melanjutkan perjalanan pencarian ke daerah Lhoknga Karena lari sapi tersebut ke daerah itu. Oleh para pencari tersebut lalu menghalau sapi itu kesebuah gunung dan mengiringnya kesana. Sesampai disana dan menjeratnya (tarom) dalam bahasa Aceh. Dinamailah gunung tersebut dengan nama Glee Tarom (gunung jeratan).
Setelah berhasil menangkap sapi tersebut kemudian dibawa pulang melalui sebuah rawa sesampai dirawa tersebut sapi dimandikan dengan demikian dinamilah rawa ini Lueng Lumo (Rawa Sapi)
Setelah dimandikan sapi dibawa pulang melewati sebuah daerah yang nyaman dan tenang karena mereka sudah kelelahan lalu beristirahatlah ditempat tersebut sambil duduk santai. Setelah beristirahat mereka melanjutkan perjalanan kembali pulang ke tempat asal. Sesampainya di mukim XXII barulah mereka sadar kalau ada sesuatu yang tertinggal yaitu “ceureupa ranub” (tempat sirih atau tembakau). Mereka saling menanyakan dan kebingungan kemudian datanglah salah satu dari mereka, bahwa dia mengingatnya ceureupa tersebut tertinggal ditempat kita duduk tadi (Bak ta duduk). Akhirnya jadilah tempat mereka singgah tadi dengan nama Lamtaduk (saat duduk).Dan inilah kisah nama Gampong Lamtadok berawal,